UBINAN PADI LEGOWO

UBINAN SISTEM TANAM PADI LEGOWO
Admin: Oksigen Pertanian ( THL TBPP DEPTAN )

Pada tulisan-tulisan sebelumnya saya sudah membahas bagaimana cara menghitung perkiraan produksi tanaman padi. Bisa anda baca di sini Model Ubinan Padi yg Tepat. Tetapi ada yang belum saya bahas, bagaimana cara menghitungnya bila sistem tanam yang digunakan adalah SISTEM LEGOWO.

Di mesin pencari google ada beberapa yang masuk ke blog saya, intinya mereka mencari hasil perkiraan produksi tanaman sistem legowo.

Suatu ketika saya dan kawan THL mau pergi ke sawah Pak Manat. Di sana saya mau melakukan ubinan.
” pak Nurman, inikah cara legowo. Bagaimana atuh cara ubinannya?”
” kan kita pernah belajar dulu?”
” iya, tapi kan yang kaya gini belum atuh pak?”
” mau tahu, nga?”
” emang bagaimana caranya?”
” ya udah, kamu ikuti saya aja. nanti nga enak masa PPL ribut cara ngubin. nga enak ma petani”
” oke deh”

Dalam melakukan ubinan, ada hal mendasar yang harus kita pahami, dalam setiap rumpun padi yang ditanam mempunyai halaman/ruang antara yang berada di depan, belakang dan samping kanan kirinya. Bila kita perumpamakan sebuah rumah. Misalkan luas tanahnya adalah 100 m2, rumah tsb berada ditengah-tengah dengan luas 60 m2. Kalau rumah tsb diumpamakan tanaman padi, maka 20 meter di depannya adalah halamannya/ruang antara. Demikian pula, bagian belakangnya ada ruang sekitar 20 m juga. Untuk samping kanan dan kiri juga, ada ruang antara 20 m di kanan dan kiri rumah tsb.

Bila kita ambil jarak tanam 25 cm maka setiap rumpun akan mempunyai halaman 12,5 di depan, belakang dan samping kanan kiri. Begitu juga dengan jarak tanam 28 cm, akan punya ruang antara setiap rumpun adalah 14 cm. Jadi halaman setiap rumpun adalah 1/2 dari jarak tanamnya.

Tapi untuk sistem lewogo agak beda sedikit, untuk halaman bagian pinggirnya agak lebar, misalkan jaraj antar legowo 40 cm. Maka ubinannya mengikuti pola sistem legowo yang dipakai.

Langkah-langkah yang saya ambil :
1. Kita harus mengetahui jarak tanamnya. Saya ambil contoh jarak tanamnya 25 cm x 25 cm atau ( 0,25 m x 0,25 m)
2. Sistem tanam yang digunakan misal legowo 4:1 dengan jarak legowo 40 cm. Maka pola ubinannya mengikuti alur legowo.
3. Jumlah rumpun yang dihitung diusahakan sebaiknya 100 rumpun. Untuk lebarnya adalah 4 rumpun karena legowo 4:1 dan panjangnya adalah 25 rumpun jadi 100 rumpun.
4. Setiap rumpun tanaman dengan tanaman yang lain punya ruang antara. Ruang antara ini juga perlu dihitung untuk memperoleh hasil yang mendekati produksi panen. Misalkan jarak panjang tanam 25 cm. Tapi karena ada sisipan di bagian pinggir maka jarak antara jadi 12,5 dibagi 2 = 6,25 cm di bawah dan 6,25 cm di atas. Demikian pula jarak lebar antara atau legowo 40 cm jarak antaranya 20 cm. Di samping kanan dan di samping kiri.
5. Setelah itu baru diukur.

Untuk jelasnya seperti ini,

Legowo yang pakai sisipan bagian pinggir

Kita hitung jumlah rumpun dalam 1 hektar. Dengan jarak 25 cm x 25 cm maka diperoleh jumlah rumpun sebanyak 160.000. Karena ini sistem LEGOWO 4;1 maka rumus jumlah rumpun adalah 160.000 + (1/(1+4) x 100%) x 160.000 = 192.000 rumpun

Saya ambil lebarnya 25 cm maka untuk 4 tanaman adalah 100 cm atau 1,0 m. Jarak antaranya adalah jarak legowo 40 cm maka 20 cm di samping kanan pinggir dan 20 cm di samping kiri pinggir atau total 0,4 m. Jadi jarak lebar ubinan 1,0 + 0,4 = 1,4 meter.

Untuk panjangnya sama 25 cm, supaya 100 tanaman maka dibutuhkan panjang sebanyak 20 tanaman tengah atau 30 tanaman pinggir.  Jadi untuk 20 tanaman adalah 20 x 25 cm = 500 cm atau 5 m. Jarak antaranya 12,5 cm ( karena sistem legowo barisan pinggir disisipkan tanaman lagi)  maka jarak antara menjadi 6,25 cm di atas dan 6,25 cm dibawah atau total 125 cm atau 0,125 m. Jadi jarak panjang ubinan 5 m + 0,125 = 5,125 meter.

Jarak hasil ubinan adalah 1,4 m x 5,125 m = 7,175 m2
Kemudian luas 1 ha ( 10.000m2 ) : 7,175 m2 = 1.394
Hasil ubinan misalkan 5 kg
Maka perkiraan hasil produksi sawah Pak Manat adalah 1.323 x 5 kg = 6,97 ton GKP

Legowo yang tak pakai sisipan bagian pinggir

Kita hitung jumlah rumpun dalam 1 hektar. Dengan jarak 25 cm x 25 cm maka diperoleh jumlah rumpun sebanyak 160.000. Karena ini sistem LEGOWO 4;1 tanpa sisipan maka rumus jumlah rumpun adalah 160.000 –  (1/(1+4) x 100%) x 160.000 = 128.000 rumpun

Saya ambil lebarnya 25 cm maka untuk 4 tanaman adalah 100 cm atau 1,0 m. Jarak antaranya adalah jarak legowo 40 cm maka 20 cm di samping kanan pinggir dan 20 cm di samping kiri pinggir atau total 0,4 m. Jadi jarak lebar ubinan 1,0 + 0,4 = 1,4 meter.

Untuk panjangnya sama 25 cm, supaya 100 tanaman maka dibutuhkan panjang sebanyak 25 tanaman. Jadi untuk 25 tanaman adalah 20 x 25 cm = 500 cm atau 5 m. Jarak halaman/ruang antaranya 12,5 cm di atas,  dibawah atau total 25 cm atau 0,25 m. Jadi jarak panjang ubinan 5 m + 0,25 = 5,25 meter.

Jarak hasil ubinan adalah 1,4 m x 5,25 m = 7,35 m2
Kemudian luas 1 ha ( 10.000m2 ) : 7,35 m2 = 1.360,5
Hasil ubinan misalkan 5 kg
Maka perkiraan hasil produksi sawah Pak Manat adalah 1.360,5 x 5 kg = 6,802 ton GKP

Sekarang kita bandingkan,

Dengan jumlah rumpun 192.000 rumpun ( bila satu rumpun 2 bibit saja jadi 384.ooo bibit) didapat hasil 6,97 ton/ha.

Dengan jumlah rumpun 128.000 rumpun ( bila satu rumpun 2 bibit saja jadi 256.ooo bibit) didapat hasil 6,802 ton/ha.

Memang setiap teori akan mudah bila dipraktekan langsung di lapangan. Dan insan yang bergerak dalam dunia pertanian disebut PPL ( Petugas Pertanian Lapangan ) sebab ruang kerjanya ya di lapangan, pada kasus ini lapangannya adalah sawah.

Iklan

SISTEM TANAM PADI LEGOWO

SISTEM TANAM PADI LEGOWO
Admin: Oksigen Pertanian ( THL TBPP DEPTAN )

Bila kita berada dalam mobil, kebetulan di kanan dan di kiri kita ada hamparan tanaman padi. Tanaman padi menghijau bagai permadani yang luas. Keindahan itu semakin indah, bila tanaman padi tersebut di tanam dengan SISTEM TANAM PADI LEGOWO.

APA ITU SISTEM LEGOWO?

Sistem Legowo adalah cara menanam padi, bila ada beberapa barisan kemudian diselingi 1 barisan yang kosong. Tetapi pada barisan paling pinggir, ditanam bibit 2x lebih banyak dibandingkan barisan tengahnya.
Untuk cara tanam seperti ini, biasanya dalam dunia pertanian disebut legowo (2:1), (3:1), (4:1), (5:1), (6:1) dan seterusnya.

Berdasarkan informasi yang saya dapat, untuk mendapatkan hasil produksi gabah tertinggi dipakai legowo 4:1.
Tetapi bila kita ingin mendapat bulir gabah bagus atau akan dibuat benih berkualitas dipakai oleh legowo 2:1.
Makanya sewaktu saya berkunjung ke Balai Benih Besar di Sukamandi – Subang, saya saksikan banyak tanaman padi yang dibuat dengan LEGOWO 2:1, sebab disana memang tempat untuk mendapatkan benih berkualitas.

PADI SISTEM LEGOWO

BAGAIMANA MENGHITUNG JUMLAH TANAMAN DENGAN SISTEM LEGOWO?

Rumusnya :
– Kita harus tahu dulu jarak tanamnya, misalkan jarak tanam 25 x 25 cm. Dengan jarak tanam tersebut maka populasinya 160 ribu tancep atau rumpun
– MENGETAHUI JUMLAH PENAMBAHAN POPULASI, caranya seperti ini = 1 / ( 1 + sistem tanam ) x 100 %

Contoh legowo 2 : 1
1
Penambahan jumlah tanaman legowo 2:1 = —— x 100 % = 33 %
(1 + 2)

Sehingga total tanaman menjadi =
= 160.000 rumpun + ( 33 % x 160.000 )
= 160.000 + 52.800
= 212.800 rumpun

Contoh legowo 4 : 1
1
Penambahan jumlah tanaman legowo 4:1 = —— x 100 % = 20 %
(1 + 4)

Sehingga total tanaman menjadi =
= 160.000 rumpun + ( 20 % x 160.000 )
= 160.000 + 32.000
= 192.000 rumpun

Jarak Tanam untuk sistem tanam padi legowo, banyak macamnya bisa 20 x 25 cm, 25 x 25 cm, 25 x 30 cm, 30 x 30 cm dll. BAgi saya pribadi, jarak tanam yang ideal untuk sistem lewogo adalah 25 x 30 cm atau 30 x 30 cm. Sebab untuk barisan pinggirnya jumlah lebih banyak.

TUJUAN SISTEM TANAM LEGOWO

Dengan gambar di atas saja dapat kita ketahui manfaat sistem ini,
1. Memperbanyak tanaman pinggir, dengan banyak tanaman pinggir maka jumlah anakkan padi banyak sehingga produksi padinya akan maksimal
2. Sinar matahari bisa langsung masuk ke bagian bawah tanaman terutama bagi tanaman pinggir. Semakin banyak sinar matahari yang mengenai daun, maka proses fotosintesis akan semakin maksimal sehingga tanaman menjadi subur
3. Mengurangi kemungkinan serangan hama. Hama tikus paling tak suka daerah yang agak terbuka.,
4 Pada lahan yang agak terbuka, kelembaban akan berkurang, sehingga serangan penyakit juga akan berkurang.
5. Mempermudah dalam penyiangan, dengan cara ini akan menghemat 50 % tenaga kerja
6. Menambah populasi tanaman. Misal pada legowo 4: 1, populasi tanaman akan bertambah sekitar 20 %. Bertambahnya populasi tanaman akan memberikan harapan peningkatan produksi gabah.
7. Akan mempermudah pelaksanaan pemupukan dan penyemprotan hama dan penyakit.

Tetapi, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa Sistem Tanam Legowo adalah cara menanam padi, bila ada beberapa barisan kemudian diselingi 1 barisan yang kosong. Tetapi pada barisan paling pinggir, sama saja dengan barisan tengahnya. Artinya cuma ada baris tanaman yang dihilangkan tanpa ditambahkan atau diselipkan pada barisan pinggirnya. Dan ini sesuai dengan sejarah ditemukan sistem tanam legowo .

Kalau saya boleh memilih, saya lebih cendrung kepada padi legowo yang barisan pinggir tanpa diselipkan atau ditambah bibit lagi. Kenapa?

Pertama, jumlah bibit yang dipakai lebih sedikit jadi hemat bibit. Contoh Legowo 4:1, akan hemat bibit 20 % dan Legowo 2;1 akan hemat bibit 33,3 %.

Kedua, tidak terlalu rapat sehingga potensi anakan dan hasil akan lebih tinggi.

Ketiga, pengoyosan bisa 2 arah.

Keempat, hasil panen lebih tinggi. Berdasarkan pengalaman saya di lapangan, hasil yang didapatkan petani lebih tinggi yang tanpa disisipkan pada barisan pinggirnya.

Bila kita ke areal sawah melihat padi legowo, saya melihat justru tanam legowo tanpa ditambahkan barisan pinggirnya yang paling banyak saya jumpai. Artinya petani lebih suka legowo ini. Bisa dari ke-2 legowo ini, hasil panennya sama. Maka petani akan memilih legowo yang tanpa diselipkan sebab hemat bibit, waktu dan tenaga. Baca Petani mencari hasil

Bila di suatu daerah pertanian, kita melihat ada hamparan padinya ditanam dengan cara system legowo. Ini bisa dipastikan, penyuluhan di daerah tersebut sudah bagus. Semoga dari waktu ke waktu, kita menyaksikan hamparan padi yang menghijau dengan sistem legowo ini.

SEJARAH ASAL SISTEM TANAM LEGOWO

MELIHAT SEJARAH PADI LEGOWO
Admin: Oksigen Pertanian ( THL TBPP DEPTAN )

Kisah ini bermula di tahun 1992

Hari itu hujan sangar deras, seorang petani dan anaknya yang sekolah STM pertanian di bilangan Jawa Tengah sangat cemas. Apa yang membuat mereka merasa cemas? Tak lain adalah tanaman padi yang masih berumur 10 hst.

Setelah reda, ayah dan anaknya segera menuju sawah. Sudah bisa ditebak, sebagian dari tanaman padi yang baru berumur 10 hst banyak yang terbawa air hujan yang cukup deras. Setelah diamati cukup banyak juga yang hilang.

Mau sebar benih susulan kembali, sudah nga keburu. Mau minta kepada petani lain kayanya mereka semua punya kendala yang sama, tanaman padi mereka pun terbawa air hujan.

Ayah dan anak belum mengambil tindakan apa-apa, mereka segera menuju saung. Menjernihkan persoalan yang ada. Dan keduanya pun duduk di sana.

“ bagaimana ayah?” kata itu merupakan awal dari pembicaraan mereka berdua.
“ bagaimana? “
“ ya, kita harus melakukan apa?”
“ Bukankah kamu sekolah di SMT pertanian? Sudah kelas 2 pula?”
“ maksud, ayah?”
“ anakku, ayah sekolahkan kamu di SMT pertanian supaya kamu pandai dalam ilmu pertanian. Dan ayah berharap bisa belajar pada dirimu”.
“ tapikan masalah seperti ini nga ada dalam bangku sekolah, ayah”
“ ya sudah, begini saja. Persoalan ini ayah serahkan pada kamu. Sekarang kamu pecahkan masalah ini. Ayah mau cari bibit di tempat lain”
“ ayah, nanti bisa tidak satu varietas”
“ ya sudah, ayah mau melihat saja kondisi sawah teman-teman ayah yang lain”

Sang ayahpun meninggalkan saung tersebut. Dan sang anak pun duduk seorang diri. Di dalam pikirannya masih terngiang kata-kata sang ayah : “ kamu kan sekolah di SMT pertanian,,, “.
“ saya harus bisa memecahkan masalah ini” begitu bathinnya bertekad.

Tiba-tiba dia teringat praktek menanam rumput gajah di sekolahnya. Selesai mencangkul, tanah sudah siap untuk ditanam, para siswa diberikan arahan oleh guru.
“ anak-anak, di depan kalian ada 3 petak lahan” sang guru melihat absen.
“sekarang bapak bagi 3 kelompok” pak guru segera menyebutkan nama-masing-masing murid. Setelah selesai membagi 3 kelompok, sang guru melanjutkan
“ setiap kelompok bebas memilih pola tanam dan jarak tanam yang sesuai dengan syarat tumbuh rumput gajah, ada pertanyaan?”
“ berapa banyak bibit rumput gajah yang kami butuhkan, pak?” salah satu murid bertanya.
“ terima kasih, masalah tergantung jarak tanam kalian. Ada lagi?”. Karena tak ada pertanyaan sang guru menyuruh para siswa segera memulai prakteknya.

Para siswa bergelut sekitar 45 menit untuk menyelesaikan tugas mereka. Setelah selesai, pak guru memberikan banyak trik menanam rumput gajah.

“,,,,, cobalah kalian ambil satu baris diantara lima baris yang ada, maka hasilnya rumputnya akan bagus. Disamping itu tanaman mudah dirawat,,,”

Saat itu juga, sang anak yang menginjak remaja langsung bangkit. Petak petak sawah yang masih banyak tanamannya diperhatikan. Dia ingin melakukan percobaan. Dari satu petak pertama diambil bibit baris ke-5, selanjutnya dipindahkan ke petak sawah yang rusak. Begitu seterusnya.

Hari-hari pun berjalan, sewaktu tanaman berumur 40 hst, tanaman terlihat lebih subur. Anakkan padi bila dibandingkan pada musim sebelumnya lebih banyak. Tak lama kemudian tanaman pun mengeluarkan daun bendera. Beberapa hari kemudian keluar malai dan seterusnya sampai panen. Hasilnya : panen lebih banyak !!.

Dan yang lebih membanggakan, kata-kata dari orang tua : “anakku, sekarang ayah bisa belajar darimu. Mudah-mudahan ada banyak lagi ayah belajar padamu,,, “
Berita bagus itu segera menyebar ke petani lain. Bahkan keluar desa tempat tinggalnya. Tak cuma itu, para PPL beserta aparaturnya pun mengetahuinya. Kemudian berkembanglah apa yang telah dilakukan oleh seorang anak muda karena sawahnya kena banjir dengan sebutan PADI JAJAR LEGOWO.

Itulah manusia, suka mengutak atik. Tadinya yang disebut legowo sangat sederhana, ambil baris ke-5. Tetapi dengan kreasinya “pihak tertentu” yang disebut legoowo adalah mengambil 1 baris kemudian disisipkan di bagian pinggir-pinggirnya. Jadi logikanya malah terbalik, tambah bibit. Untuk legowo 2:1 dibutuhkan sekitar 33 % penambahan bibit, untuk legowo 3:1 butuh tambah bibit 25 % dan untuk legowo 4:1 butuh tambahan bibit 20 %. Padahal sejarahnya, legowo itu mengurangi bibit !!!

Logika sederhana :

Bila dalam satu hektar, pemakaian bibit meningkat dengan hasil meningkat bila pakai system legowo sisipan adalah wajar. Yang hebat adalah bila jumlah bibit makin berkurang tapi hasil meningkat. Itu yang luar biasa. Sedangkan mengenai sistem tanam padi legowo, sistem ubinannya agak beda dengan tandur jajar biasa. Pembaca bisa lihat sini, Ubinan Sistem Legowo .

Pada tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya lebih suka pake rumus : bibit berkurang hasil meningkat. Tapi kalau ada yang suka bibit bertambah hasil meningkat, ya silahkan,,,

Sumber : http://ceritanurmanadi.wordpress.com/2012/03/22/sejarah-padi-legowo-2/