RUMAH TIDAK MEMAKAI SEMEN

RUMAH TANPA -SEDIKIT- SEMEN

Coba kita perhatikan lingkungan sekitar kita. Lebih tepatnya para tetangga kita yang anaknya sudah besar. Yang anaknya sudah menikah. Yang anaknya sudah berkeluarga dan memiliki anak,,,

Apakah anaknya yang sudah menikah tsb masih tinggal dengan orang tuanya? kalau saya perhatikan, sudah mulai agak banyak, anak yang sudah berkeluarga masih tinggal dengan orangtuanya.

Di tempat tingggal saya, ada tetangga yang punya anak dan sudah 7 tahun menikah -sudah punya anak- masih tingal bersama orang tuanya. Ada juga tetangga saya yang memiliki 3 anak. Ke-3 anaknya sudah berkeluarga -memiliki anak-. Akan tetapi, Ke-3 anaknya masih tinggal bersama orang tuanya.

Ada teman yang bercerita kepada saya, yang intinya hampir sama: sudah mulai banyak anak-anak yang sudah berkeluarga tinggal bersama orang tuanya.

Bahkan di Amerika sendiri, berdasarkan apa yang saya baca di dalam situs Gerai Dinar, gejala di atas sudah mulai seperti itu: sudah milai banyak anak-anak yang sudah berkeluarga di Amerika masih tinggal bersama orang tuanya.

Apa artinya?

Bisa jadi, sebagian besar penghasilan yang mereka dapatkan sulit mengejar “melajunya” harga rumah. Penghasilan yang mereka dapatkan termakan oleh “inflasi” yang makin tinggi. Sebab sistem yang dianut negara kita mengekor kepada kapitalisme,,,

Mengapa rumah mahal?
Salah satu sebabnya bahan-bahan untuk membuat rumah juga mahal.

Bisakan rumah menjadi murah? bisa saja. Asalkan bahan-bahannya murah dan mudah didapatkan.

Untuk memahami persoalan ini, silahkan baca tulisan ini,,,

Menurut data Habitat – PBB, 30 % penduduk perkotaan tinggal di daerah kumuh sementara yang di desa malah lebih banyak yaitu 35 %. Kekumuhan ini dicirikan antara lain dengan kurangnya air bersih, terbatasnya saluran pembuangan, kepadatan yang berlebihan, struktur bangunan yang tidak layak, dan status tempat tinggal yang tidak sah. Kondisi ini akan terus memburuk seiring dengan bertambahnya penduduk di muka bumi, dapatkah kita melakukan perbaikan ?

Rumah adalah salah satu sumber kebahagiaan dan juga sekaligus sumber kesedihan sebagaimana diungkap dalam hadits : “Ada empat sumber kebahagiaan seseorang, yaitu istri salehah, rumah yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Juga ada empat sumber kesedihan seseorang, yaitu tetangga yang jahat, istri yang membangkang, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk.” (HR. Imam Ibnu Hibban).

Maka mengatasi problem-problem kesulitan perumahan bagi rakyat adalah juga bagian dari mengatasi kesedihan-kesedihannya. Saat ini kita di Indonesia mengalami kekurangan perumahan sekitar 15 juta rumah dan bertambah sekitar 400,000 setahunnya. Maka inilah tantangannya.

Tetapi bila rumah dibangun dengan cara-cara seperti sekarang, nampaknya problem perumahan ini bukannya teratasi malah tereskalasi. Lantas apa solusinya ?

Nampaknya hanya ada satu jalan untuk menyelesaikan masalah ini, yaitu kembali kepada petunjukNya. Inspirasinya datang dari wahyu Allah ke lebah : “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”.” (QS 16 :68).

Karena lebah mendapatkan wahyu untuk membuat rumah kemudian lebah benar-benar menggunakan wahyu itu – maka tidak ada lebah yang tidak punya rumah, dan lingkungan rumahnya-pun tidak ada yang kumuh. Rumah lebah-pun selalu indah sehingga tidak ada perbedaan yang significant antara tingat-tingkat masyarakat lebah dalam hal perumahannya. Lebah pekerja memiliki rumah yang sama indahnya dengan lebah-lebah jantan – calon suami ratu lebah.

Lebah membangun rumah dari bahan-bahan yang ada di sekitarnya sehingga tidak ada lebah yang kesulitan mencari bahan banguan untuk rumahnya. Beda sekali dengan manusia, ketika semen di Jawa harganya hanya Rp 70,000,- semen di salah satu kabupaten di Papua bisa mencapai 20 kalinya yaitu Rp 1,400,000 per sak.

Lebah membangun rumah dengan bergotong royong, sehingga tidak perlu membayar tenaga kerja atau resources lain yang mahal. Rumah lebah tidak terbebani biaya bunga atau riba, sehingga tidak ada rumah lebah yang mahal.

Rumah lebah dekat dengan ‘tempat kerja’ di mana lebah mencari makan, sehingga tidak ada lebah yang perlu membuang waktu terlalu banyak untuk pergi dan pulang dari tempat kerjanya.

Di dalam rumah-nyapun lebah masih bisa produktif menghasilkan produk-produk yang sangat bermanfaat untuk koloni lebah maupun untuk manusia, yaitu madu.

Di akhir cerita tentang lebah tersebut Allah-pun mengingatkan manusia agar belajar darinya : “Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS 16:69)

Bayangkan kalau prinsip-prinsip rumah lebah ini semua bisa diterapkan dalam pembangunan rumah manusia, Maka insyaAllah sumber-sumber kebahagiaan itupun akan datang dari rumah-rumah kita semua.

Bayangkan kalau kita bisa membangun rumah atau perumahan seperti lebah : 1) Tidak menggunakan bahan selain yang ada di sekitar kita; 2) Membangun dengan cara gotong royong; 3) Rumah yang dekat dengan tempat kerja atau bahkan menjadi rumah produktif yang sekaligus tempat kerja.

Prinsip pertama dan kedua insyaAllah akan menjadi project berikutnya yang akan diwujudkan di Startup Center – Depok. Teknologi yang menjadi kajian dari teman-teman di perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri, insyaAllah siap diterapkan. Teknologi yang disebut Mortarless Technology – Teknologi tanpa (atau sedikit) semen antara lain akan menjadi solusinya.

Interlocking

Dengan teknologi ini Anda akan bisa membuat rumah dengan bahan dari galian tanah di lokasi rumah yang akan dibangun. Tanah yang dikeduk untuk leveling atau digali untuk resapan air, bisa cukup untuk membuat batu bata khusus yang disebut Interlocking Brick. Dari batu bata inilah dinding rumah akan dibuat.

Untuk membangun rumah dengan Interlocking Brick selain murah juga mudah, sehingga Anda bisa bekerjasama dengan tetangga-tetangga untuk saling membangunkan rumah masing-masing. Tentu ini bisa dicapai bila Anda bertetangga dengan orang-orang yang baik seperti diindikasikan dalam hadits tersebut di atas.

Kemudian prinsip ketiganya adalah juga sangat dimungkinkan dengan era teknologi ini. Anda tidak harus bekerja di pusat kota, dengan telekomunikasi yang baik – Anda tetap akan bisa bekerja meskipun komplek perumahan Anda nun jauh di tempat yang masih segar di luar kota sana.

Semua rancang bangun rumah dengan Mortartless Technology (MT) ini insyaAllah siap, hanya kami masih membutuhkan ahli produksi mesin, baik perorangan maupun perusahaan yang siap memproduksi mesin-mesin yang murah dan reliable untuk memproduksi bata khusus tersebut di atas. Bila Anda tertarik untuk memproduksi mesin-mesin ini atas pesanan kita semua, silahkan menghubungi kami di menu kontak ini, briefing spesifikasi teknis hanya akan diberikan ke peminat yang capable untuk mewujudkannya – menurut penilaian kami.

InsyaAllah bersama-sama kita bisa ikut mengatasi problem perumahan di negeri ini, sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi jutaan orang yang kini belum bisa menikmati kebahagiaan dari rumahnya. InsyaAllah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: