SEJARAH ASAL SISTEM TANAM LEGOWO

MELIHAT SEJARAH PADI LEGOWO
Admin: Oksigen Pertanian ( THL TBPP DEPTAN )

Kisah ini bermula di tahun 1992

Hari itu hujan sangar deras, seorang petani dan anaknya yang sekolah STM pertanian di bilangan Jawa Tengah sangat cemas. Apa yang membuat mereka merasa cemas? Tak lain adalah tanaman padi yang masih berumur 10 hst.

Setelah reda, ayah dan anaknya segera menuju sawah. Sudah bisa ditebak, sebagian dari tanaman padi yang baru berumur 10 hst banyak yang terbawa air hujan yang cukup deras. Setelah diamati cukup banyak juga yang hilang.

Mau sebar benih susulan kembali, sudah nga keburu. Mau minta kepada petani lain kayanya mereka semua punya kendala yang sama, tanaman padi mereka pun terbawa air hujan.

Ayah dan anak belum mengambil tindakan apa-apa, mereka segera menuju saung. Menjernihkan persoalan yang ada. Dan keduanya pun duduk di sana.

“ bagaimana ayah?” kata itu merupakan awal dari pembicaraan mereka berdua.
“ bagaimana? “
“ ya, kita harus melakukan apa?”
“ Bukankah kamu sekolah di SMT pertanian? Sudah kelas 2 pula?”
“ maksud, ayah?”
“ anakku, ayah sekolahkan kamu di SMT pertanian supaya kamu pandai dalam ilmu pertanian. Dan ayah berharap bisa belajar pada dirimu”.
“ tapikan masalah seperti ini nga ada dalam bangku sekolah, ayah”
“ ya sudah, begini saja. Persoalan ini ayah serahkan pada kamu. Sekarang kamu pecahkan masalah ini. Ayah mau cari bibit di tempat lain”
“ ayah, nanti bisa tidak satu varietas”
“ ya sudah, ayah mau melihat saja kondisi sawah teman-teman ayah yang lain”

Sang ayahpun meninggalkan saung tersebut. Dan sang anak pun duduk seorang diri. Di dalam pikirannya masih terngiang kata-kata sang ayah : “ kamu kan sekolah di SMT pertanian,,, “.
“ saya harus bisa memecahkan masalah ini” begitu bathinnya bertekad.

Tiba-tiba dia teringat praktek menanam rumput gajah di sekolahnya. Selesai mencangkul, tanah sudah siap untuk ditanam, para siswa diberikan arahan oleh guru.
“ anak-anak, di depan kalian ada 3 petak lahan” sang guru melihat absen.
“sekarang bapak bagi 3 kelompok” pak guru segera menyebutkan nama-masing-masing murid. Setelah selesai membagi 3 kelompok, sang guru melanjutkan
“ setiap kelompok bebas memilih pola tanam dan jarak tanam yang sesuai dengan syarat tumbuh rumput gajah, ada pertanyaan?”
“ berapa banyak bibit rumput gajah yang kami butuhkan, pak?” salah satu murid bertanya.
“ terima kasih, masalah tergantung jarak tanam kalian. Ada lagi?”. Karena tak ada pertanyaan sang guru menyuruh para siswa segera memulai prakteknya.

Para siswa bergelut sekitar 45 menit untuk menyelesaikan tugas mereka. Setelah selesai, pak guru memberikan banyak trik menanam rumput gajah.

“,,,,, cobalah kalian ambil satu baris diantara lima baris yang ada, maka hasilnya rumputnya akan bagus. Disamping itu tanaman mudah dirawat,,,”

Saat itu juga, sang anak yang menginjak remaja langsung bangkit. Petak petak sawah yang masih banyak tanamannya diperhatikan. Dia ingin melakukan percobaan. Dari satu petak pertama diambil bibit baris ke-5, selanjutnya dipindahkan ke petak sawah yang rusak. Begitu seterusnya.

Hari-hari pun berjalan, sewaktu tanaman berumur 40 hst, tanaman terlihat lebih subur. Anakkan padi bila dibandingkan pada musim sebelumnya lebih banyak. Tak lama kemudian tanaman pun mengeluarkan daun bendera. Beberapa hari kemudian keluar malai dan seterusnya sampai panen. Hasilnya : panen lebih banyak !!.

Dan yang lebih membanggakan, kata-kata dari orang tua : “anakku, sekarang ayah bisa belajar darimu. Mudah-mudahan ada banyak lagi ayah belajar padamu,,, “
Berita bagus itu segera menyebar ke petani lain. Bahkan keluar desa tempat tinggalnya. Tak cuma itu, para PPL beserta aparaturnya pun mengetahuinya. Kemudian berkembanglah apa yang telah dilakukan oleh seorang anak muda karena sawahnya kena banjir dengan sebutan PADI JAJAR LEGOWO.

Itulah manusia, suka mengutak atik. Tadinya yang disebut legowo sangat sederhana, ambil baris ke-5. Tetapi dengan kreasinya “pihak tertentu” yang disebut legoowo adalah mengambil 1 baris kemudian disisipkan di bagian pinggir-pinggirnya. Jadi logikanya malah terbalik, tambah bibit. Untuk legowo 2:1 dibutuhkan sekitar 33 % penambahan bibit, untuk legowo 3:1 butuh tambah bibit 25 % dan untuk legowo 4:1 butuh tambahan bibit 20 %. Padahal sejarahnya, legowo itu mengurangi bibit !!!

Logika sederhana :

Bila dalam satu hektar, pemakaian bibit meningkat dengan hasil meningkat bila pakai system legowo sisipan adalah wajar. Yang hebat adalah bila jumlah bibit makin berkurang tapi hasil meningkat. Itu yang luar biasa. Sedangkan mengenai sistem tanam padi legowo, sistem ubinannya agak beda dengan tandur jajar biasa. Pembaca bisa lihat sini, Ubinan Sistem Legowo .

Pada tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya lebih suka pake rumus : bibit berkurang hasil meningkat. Tapi kalau ada yang suka bibit bertambah hasil meningkat, ya silahkan,,,

Sumber : http://ceritanurmanadi.wordpress.com/2012/03/22/sejarah-padi-legowo-2/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: